Rumah Qur'ani Terasa Sesak


Rumah Qurani yang sudah terasa sesak . Ketika PT KIN sudah terasa kurang bergengsi sehingga buru-buru ingin mengurus jadi universitas . Kenapa ingin kau telantarkan aku hai PTKIN, padahal sejak tahun 1946 aku telah lahir di bumi Nanggroe Aceh Darussalam yang waktu itu Soekarno peduli padaku ,dialah presiden pertama Republik Indonesia ikut menjadi bidan ku datang ke Aceh naik pesawat Dakota , pesawat Dakota ini yang kami beli dengansemangat gotong royong bersama-sama raja-raja Nusantara .Soekarno memberikan PTKIN sebagai hadiah untuk Ibu ke Provinsi Aceh yang telah sangat peduli kemerdekaan Republik Indonesia  . Karena semangatku waktu itu sehingga  cita-cita sampai ke langit ke-7 untuk mengabarkan bahwa dibumi Alquran sudah membudaya, seperti yang yang pernah juga disebut oleh Quraisy Shihab jelang abad ke-20 . Oh iya!, setelah perjalanan aqu (PTKIN) 7 dasawarsa ini, kini aku berusia 74 tahun setara dengan umur seorang kakek tua yang sudah tak banyak lagi bisa berbuat apa-apa. Kini aku sering merenung Kenapa orang sudah sampai di bulan di Venus dan di Planet Mars,  namun aku masih saja dibumi, makanya aku ingin mengejar Tuan supersonik .Di manakah kau Tuan  supersonic ?, oh nggak usah kau tanya aku PTKIN karena aku sudah sangat  jauh darimu PTKIN !. Jarak kita sudah 250 tahun setara dengan lamanya Amerika dah merdeka. Lagi pula aqu yang anda panggil Tuan Supersonic sudah agak jengkel padamu hai PTKIN !, itu disebabkan tugas dasar mu membangun rumah Qurani yang kau janjikan 74 tahun lalu di bumi Nanggroe Aceh tak menggairahkan aku sampai sekarang, sehingga aku merasa hidup kurang melaksanakan keberagamaan di NKRI. Lihatlah sampek sekarang:
 1. PTKIN sangat mencintai sangat mencintai Alquran Tapi engkau tak mampu memperkenalkan bahasanya dengan mantap di setiap jenjang pendidikan umum di bumi NKRI, sehingga mereka kurang mencintai aku ( Al-Qur'an. Anda PTKIN harus lihat ketika manusia sudah berumur tua baru lah pula ia ingin mengenal aku disebabkan terbetik kabar bahwa bahasa  di liang lahat rupanya banyak menggunakan bahasaku bahasa Al-Qur'an. 
2. Kegelisahan aku kini juga masih banyak orang Islam yg nota benenya mayoritas di bumi NKRI ini masih banyak melek Al-Qur'an.
3. Para orang Islam hebat di NKRI ini sampai sekarang tak pernah tersentuh nuraninya untuk memperjuangkan pembelajaran bahasa Qur'ani mulai dari PAUD sampai PT.
Nurturan Efek
1. Budaya keIslaman semakin tak menjadi idola dikalangan Pejabat dan juga masyarakat melania
2. Budaya Korupsi semakin merebak dikalangan birokrasi
3. Petinggi Republik ini banyak pikiran untuk berselingkuh
4. Negeri ini banyak menghabiskan waktu untuk politik dan sedikit perhatian untuk membumikan AlQur'an
5. Para pebisnis semakin jauh dari sar'i dan lebih senang pada kapitalis
Solusi
PTKIN tak bisa menghindar diri untuk memperbaiki nurturan efek ini.
PTKIN harus jadi lokomotif untuk memulihkan ketelanjuran ini
Biarlah PTKIN betah dengan tugas mulia ini.


No comments: