BAB KEENAM INTELIGENSI


 

A.      Defenisi Inteligensi

Istilah inteligensi berasal dari kata latin “intelligere” yang berarti hubungan atau menyatukan satu sama lain. Dalam bahasa Arab, inteligensi disebut dengan “ad-dzaka” yang berarti pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan. Berikut ini beberapa defenisi tentang intelligensi yang dikemukakan oleh para ahli:

1.      William Stera, menyatakan bahwa inteligensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.

2.      Edward L. Thorndike mengatakan bahwa inteligensi ditunjukka dengan individu untuk memberikan respon yang tepat atas dasar kebenaran atau fakta.

3.      Terman mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak.

4.      L.J Cronbach dalam bukunya yang berjudul Essential of Psychological Testing, mendefisikan intelligensi sebagai efektivitas menyeluruh dalam aktivitas yang diarahkan oleh pikiran.

5.      Freeman memandang inteligensi sebagai kapasitas untuk memadukan pengalaman dan menghadapi situasi baru dengan pengertian yang tepat dan respon adaptf, kapasitas untuk belajar, kapasitas untuk melaksanakan tugas-tugas psikologi secara intelektual, kapasitas untuk berpikir abstrak.

6.      Strenberg mendefinisikan inteligensi sebagai tiga dimensi, yaitu: kapasitas untuk memperoleh pengetahuan, kemampuan untuk berpikir dan logika dalam bentuk abstrak, kapabilitas untuk memecahkan masalah.

7.      Murphy and David Shofer menyatakan bahwa inteligensi mengacu pada adanya perbedaan individual dalam mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan  dengan manipulasi, menampilkan kembali ingatan, evaluasi, maupun pemrosesan informasi.

8.      Anastasi menyatakan bahwa inteligensi adalah kombinasi dari kemampuan yang dipersyaratkan untuk bertahan hidup dan meningkatkan diri dalam budaya tertentu.

9.      J.P Chaplin mendefinisikan inteligensi sebagai: kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diriterhadap situasi baru secara cepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.

 

Berdasarkan defenisi-defenisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah kemampuan potensi umum untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah.

 

B.       Pengukuran Inteligensi

Bagi masyarakat umum, istilah IQ sering kali disamakan dengan inteligensi, padahal keduanya berbeda. Intelligensi adalah kemampuan umum sesungguhnya yang dimiliki seseorang, akan tetapi IQ  adalah suatu tingkat indeks relative inteligensi seseorang, setelah dibandingkan dengan orang lain yang seusia dengannya. Ukuran-ukuran yang biasanya digunakan untuk mengukur atau mengetahui tingkat inteligensi seseorang adalah sebagai berikut:

IQ

Tafsiran

140-

Berbakat

120 – 140

Sangat superior

110 – 120

Superior

90 – 110

Normal,rata-rata

70 – 90

Normal yang tumpul

50 – 70

Moron

20 – 50

Imbesil

0 – 20

Idiot

                        Menurut Anastasi dan Urbina, tes IQ hendaknya dipandang sebagai konsep deskriptif bukan eksplanatif. Tes IQ banyak bentuknya. Beberapa tes menggunakan tipe item tunggal, contohnya Peabody Picture Vocabulary (untuk anak-anak) dan Raven Progressive Matrices (tes nonverbal yang membutuhkan penalaran induktif mengenai pola perseptual). Tes intelligensi umum ini dapat menghasilkan skor untuk bagian-bagian maupun untuk total.

                        Tes inteligensi tidak ada langsung seperti sekarang ini, akan tetapi mengalami proses perkembangan yang cukup panjang. Menurut Surybrata, perkembangan tes inteligensi melewati empat fase, yaitu: Fase pertama, yaitu fase persiapan adalah fase dimana para ahli sedang berusaha mendapat tes inteligensi itu. Fase ini berlangsung kira-kira sampai tahun 1915. Fase kedua, yaitu fase naïf adalah fase dimana orang menggunakan tes inteligensi tanpa kritik. Fase ini berlangsung dari kira-kira tahun 1915 sampai 1935. Fase ketiga, yaitu fase mencari tes yang berbeda dari pengaruh kebudayan. Fase ini berlangsung sejak tahun 1935 hinga 1950. Fase keempat, yaitu fase kritis adalah afse dimana orang menggunakan tes inteligensi dengan sikap kritis.

                        Menurut Surybrata, di antar kelemahan-kelemahan tes inteligensi itu adalah bahwa tes inteligensi itu:

1.      Tergantung kepada kebudayaan.

2.      Hanya cocok untuk jenis tingkah laku tertentu.

3.      Hanya cocok untuk tipe kepribadian tertentu.

4.      Inteligensi seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan.

5.      Inteligensi seseorang itu tidak konstan.

6.      Penggolongen inteligensi seseorang itu bukanlah harga mati,

7.      Mengandung kekeliruan-kekeliuran.

Karena kelemahan-kelemahannya itu, maka menurut Muhibbin Syah, kebenaran hasil tes IQ tidak usah dipercayai secara penuh karena dua alasan pokok. Pertama kemungkinan hasil yang diperoleh dipengaruhi oleh situasi dan kondisi pada saat tes dilakukan. Kedua, karena kemampuan anak yang berbeda-beda menyebabkan sebagian anak mungkin belum mampu untuk menyelesaikan tes yang diberikan sehingga hasil yang dicapai tidak memuaskan.

 

C.      Teori Inteligensi

                        Ada banyaka teori tentang inteligensi yang sikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah:

1.      Teori General Inteligence dari Spearman

      Inteligensi adalah kemampuan umum yang terutama berkaitan dengan induksi hubungan atau saling hubungan.

2.      Teori Intelligence dari Cattell 

      Raymand B. Cattell meyarankan teori yang banyak memengaruhi teori struktur inteligensi. Ada dua macam unsur kecerdasan umum, yaitu inteligensi yang fluid dan yang Kristal.

3.      Teori Structure of intellect dari Guilford

      Berbeda dengan Spearman yang memusatkan perhatian pada faktor, Guilford lebih memusatkan perhatian pada faktor yang spesifik, seperti ingatan, pemahaman verbal, atau kemahiran bekerja menggunakan angka-angka.

4.      Teori Multiple Intelligence dari Gardner

      Menurut Gardner, inteligensi manusia memiliki sepuluh dimensi, yaitu:

a.       Linguistic intelligence

b.      Logical-mathematicalintelligence

c.       Musical intelligence

d.      Spatial intelligence

e.       Bodily-kinesthetic intelligence

f.       Interpersonal intelligence

g.      Intrapersonal intelligence

h.      Naturalis intelligence

i.        Spiritual intelligence

j.        Existensial intelligence

5.      Triarchic Theory of intelligence dari Sternberg

            Teori ini terbagi dari tiga bagian yaitu: komponen-komponen pemrosesan, komponen-komponen konstektual, komponen-komponen pengalaman. Bagian paling mendasar dari teori ini adalah komponen-komponen pemrosesan yang dipergunakan individu untuk memecahkan masalah, yaitu komponen pemerolehan pengetahuan, komponen kinerja, dan metakomponen.

No comments: