Panduan Komunikasi Untuk Berbicara Yang Mendidik



Setiap insan punya hak berbicara. Baik dengan lisan, tulisan, maupun isyarat perbuatan. Namun berbicara dengan lisan merupakan alat komunikasi terlama, dan lebih hemat bagi manusia. Manusia sebelum terampil membaca dan menulis dulunya pada dasarnya sudah mampu berbicara untuk menyampaikan sesuatu pada obyeknya. Tahapan perkembangan berkomunikasi itu bermula dengan isyarat, berlanjut dengan tanda, dan berujung dengan terampil berbicara yang beraneka ragam. Pada klimaksnya manusia dapat produktif sehingga menghasilkan karya tulis yang berkualitas.

Bila mana seseorang terampil berbicara dengan lisan yang baik, diiringi dengan adab yang menyenangkan, maka biasanya hubungan akan lebih cepat menjadi intim dan akrab. Sebaliknya bila bicara seseorang itu sering ngawur ditopang pula dengan adab yang kurang beretika maka cendrung akan menciptakan hubungan yang kurang harmonis, sehingga juga akan menebar racun permusuhan. Perlu dimengerti bahwa lisan yang tidak baik bukan mengantarkan individu kepada suatu kematangan, tetapi banyak berujung pada image yang tidak menyenangkan bagi orang lain

Sumber Tulisan: Jurnal Darul Ilmi


Referensi:
Alquran Alkarim
Gardner, Howard, Multiple Intelligences, Kecerdasan Majemuk-Teori dalam Praktek, Jakarta:
Interaksara, 2003.
Husnaini, M., Bina Akhlak Suara Muhammadiyah, Yokyakarta: Grama Surya, 2013.
Prayitno dan Amti, Erman, Teknik Labor Konseling, Padang: FIP-UNP, 1999.
Retnowati, Sofia, Kiat Sukses Komunikasi Remaja, Yokyakarta: FP-UGM, 2012

No comments: